Thursday, December 17, 2020

ROMANTISISASI MASA 90-AN

Ada sebuah pernyataan sains yang mengatakan bahwa kita sedang hidup dalam dunia 4 dimensi. Selain dimensi ruang, dimensi yang sering diabaikan oleh kebanyakan orang adalah dimensi waktu. Uniknya, dimensi waktu menjadi satu-satunya dimensi yang tak dapat diulang ataupun diputar kembali. Sehingga, apa yang terjadi pada satu detik yang lalu, tak mungkin dapat terulang kembali.


Keniscayaan memutar waktu ini membuat kita sebagai manusia mengalami masa pertumbuhan yang berbeda-beda. Beberapa diantara kita terlahir pada tahun 1980-an dan mengalami masa kanak-kanak pada periode 1990-an. Ada juga yang terlahir pada abad 21 atau tahun 2000-an, dan mengalami masa kanak-kanak pada saat teknologi sudah berkembang sangat pesat. Anehnya, tak ada satupun diantara kita dapat memilih kapan kita dilahirkan, dimana, dan bertumbuh pada masa yang seperti apa.


Kesadaran bahwa waktu tak dapat diputar membuat beberapa orang yang tumbuh pada masa 90-an melakukan klaim bahwa masa 90-an adalah masa yang terbaik untuk bertumbuh sebagai manusia. Alibinya sangat beragam. Mulai dari interaksi sosial yang masih kental, permainan anak-anak masih dilakukan secara bersama-sama tanpa melibatkan teknologi, hingga acara di telivisi, yang menurut mereka, berada pada masa keemasannya.

Klaim yang Cukup Bagus, dan didukung dengan opini yang masuk akal

Klaim ini seolah membuat gambaran bahwa keadaan saat ini lebih buruk dibandingkan pada masa 90-an. Padahal, jika dilihat secara seksama, hidup pada masa sekarang ini jauh lebih mudah. Kemudahan untuk berhubungan dengan orang yang berada pada jarak yang jauh tentu tak akan dapat ditemui pada masa 90-an. Lalu, kemudahan untuk mencari informasi apa saja dari internet seharusnya sudah menjadi nilai tambah masa ini dibanding masa 90-an. Bahkan, mobilitas orang pada masa ini sudah sangat tinggi dan dapat dilakukan dengan mudah jika dibanding masa 90-an.

 

Tak ada yang salah ketika anak 90-an melakukan klaim bahwa masa mereka merupakan masa yang sangat indah dalam hidup mereka. Patut digaris bawahi bahwa hal itu bukan dikarenakan masa sekarang semakin memburuk. Akan tetapi, mereka hanya terjebak pada romantisisasi masa kanak-kanak mereka yang indah. Perlu diingat juga, tumbuh di masa 90-an tak membuat mereka lebih superior dibandingkan anak yang tumbuh pada masa lainnya. Jadi, tak ada gunanya membuat meme yang membawa-bawa anak zaman sekarang. Jika dulu masih merasakan mencari informasi melalui RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap), maka tak perlu merasa superior terhadap anak zaman sekarang yang dengan mudah mencari informasi melalui Google. Jika dulu masih merasakan susahnya menutup kaca mobil, maka tak perlu merasa superior dengan anak zaman sekarang yang dengan mudah menutup kaca mobil dengan power window.


"Anak zaman sekarang"


Kecenderungan untuk mengagung-agungkan masa 90-an bisa jadi tak ada hubungannya dengan masa 90-an itu sendiri. Biasanya mereka melakukan romantisisasi masa 90-an karena pada periode tersebut mereka bertumbuh sebagai seorang anak kecil yang belum tahu bagaimana kerasnya kehidupan. Pada masa sekarang, anak 90-an seharusnya sudah mencapai usia dewasa dan biasanya sudah berkeluarga. Tanggung jawab kehidupan, seperti membayar tagihan listrik, membayar uang sekolah anak, dan membuat janji temu dengan dokter, telah melekat pada mereka. Sehingga, ketika diajak bernostalgia dengan masa 90-an, yang muncul adalah masa-masa indah dimana tanggung jawab hidup tersebut belum melekat.


Tak ada yang salah dengan bernostalgia kembali pada masa kecil. Namun, tak perlu merasa lebih superior dibandingkan dengan generasi sekarang. Tak perlu mengatakan "Anak zaman sekarang ga tau sih gimana susahnya bla bla bla". Bukan salah anak zaman sekarang jika mereka ga tau. Bukan karena anak zaman sekarang inferior, tapi karena anak zaman sekarang masih muda dan kalian anak 90-an udah tua. Setiap masa memiliki ciri khasnya masing-masing, dan tak ada masa yang lebih superior dibanding masa lainnya. Jadi nikmati saja nostalgiamu tanpa perlu merasa superior. 

0 Reviews:

Post a Comment